Mandiri Listrik dengan Lang-Baling

sungai pltmh (2).jpg
Sungai Pekalen membelah areal sawah di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Probolinggo. Selain untuk irigasi, debit air sungai tersebut dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh). (Foto: Maesah Anggni)

Februari 2017, saya bersama tujuh kawan dari Sustaining Indonesia dan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) berkesempatan mengunjungi Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris, Probolinggo, Jawa Timur. Terletak di kaki Gunung Argopuro, desa ini cukup terpencil, bahkan komunikasi dengan telepon genggam pun sulit sekali, nyaris tidak ada signal untuk operator apapun.

Di Andung Biru kami menemui Pak Rasid. Pria kelahiran 5 Desember 1969 ini adalah pahlawan bagi desanya, karena berhasil menciptakan dan mengalirkan listrik untuk 600 rumah di lingkungan tempat tinggalnya.

Kincir kayu

Ide membuat listrik didapat Rasid saat mengamati kincir air peninggalan Belanda di PTPN dekat tempat tinggalnya, sewaktu dirinya dengan beberapa warga mengambil bibit kopi. Waktu itu, Tahun 1992 Rasid pun nekat mencoba membuat kincir seperti yang dilihatnya di PTPN. Bedanya, kincir PTPN terbuat dari besi, sedangkan Rasid memilih bahan kayu karena ketiadaan biaya.

Kincir Air Rasid yang seadanya pun jadi dan mampu menghasilkan listrik. Listrik tersebut tidak dinikmati sendiri, setidaknya 25 rumah turut merasakan. Tahun 1994 pengguna listrik bertambah menjadi 75 rumah, dan bertambah menjadi 80 rumah pada tahun 1999. Instalasi listrik Rasid sontak menyedot perhatian warga yang menyebut kincir air dengan nama “Lang-Baling”.

kincir air.jpg
Kincir air karya Mahasiswa ITATS dengan arahan Rasid di Desa Andungbiru. Sebelum menggunakan turbin, Rasid juga menghasilkan listrik dengan kincir berbahan kayu (Foto: Maesah Anggni)

Turbin bekas

Dari pertama kali beroperasi, yakni Tahun 1992 hingga 1999, Lang-baling Rasid sering rusak, hampir dipastikan sebulan sekali, terutama poros kincir patah dan kerusakan bearing.

Seringnya mengalami kerusakan, Rasid nekad membeli turbin bekas tipe cross flow dengan kapasitas terpasang 15 KVA, seharga Rp. 30 Juta. Dengan turbin bekas tersebut, bertambah banyak yang dapat dilayani listriknya oleh Rasid, yaitu 125 rumah.

Tahun 2004 Rasid mengganti turbinnya dengan kapasitas yang lebih besar menjadi 20 KVa, dan dapat melayani 200 rumah. Ternyata, permintaan masyarakat terus bertambah, dan Rasid tidak kuasa menolaknya. Satu-satunya pilihan adalah mengganti lagi turbin dengan kapasitas yang lebih besar, yaitu 30 KVA pada tahun 2006. Untuk membeli turbin ini, Rasid harus merogoh dompetnya hingga Rp. 75 Juta yang didapatnya dari menjual hasil panen kopi miliknya. “Kehilangan” uang hasil panen tidak disesali Rasid, karena puas dengan bertambahnya warga yang dibantu listriknya hingga mencapi 250 rumah dan terus berkembang hingga 400 rumah pada tahun 2012.

Dilirik BUMN

Kegigihan Rasid yang berhasil menciptakan listrik dan merawatnya sekian lama, membuat beberapa pihak menaruh simpati. Tahun 2012 beberapa orang dari Universitas Brawijaya bersama Perusahaan Gas Negara (PGN), melakukan riset dan kemudian memberikan bantuan tambahan turbin berkapasitas 16 KVA.

Penambahan turbin baru tersebut melegakan Rasid, karena dapat menambah listrik ke warga menjadi 600 rumah lebih. Turbin tersebut beroperasi bersamaan dan bersebelahan dengan turbin yang dibeli sendiri oleh Rasid.

Hinga kini, Rasid dengan dibantu saudara dan warga yang lain telah mampu mengaliri listrik di beberapa wilayah, yaitu Dusun Sumberapung Desa Andung Biru Kecamatan Tiris, sebanyak 100 rumah, Dusun Tunggangan Desa Tiris Kecamatan Tiris, sebanyak 81 rumah, serta Dusun Jawaan Desa Roto Kecamatan Tiris, sebanyak 25 rumah, dan Dusun Sumberapung Desa Sumber Duren Kecamatan Krucil, sebanyak 200 KK,

merawat turbin.jpg
Rasid sedang memeriksa turbin dan generator bantuan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Dari bantuan PGN tersebut, Rasis berhasil menambah masyarakat pengguna listrik. (Foto: Maesah Anggni)

Tarif murah, bayar tidak harus uang

Pada awalnya, Rasid mengenakan tarif untuk pemakaian listrik sebesar seribu rupiah per bulan untuk satu lampu. Namun seiring bertambah dan beragamnya peralatan yang menggunakan listrik di rumah-rumah warga, Rasid pun berinovasi memasang KWh meter, sehingga tarif dihitung berdasarkan banyaknya pemakaian. Untuk setiap meter dikenakan biaya Rp. 650. Dari nilai tarif tersebut, rata-rata rumah membayar per bulan antara Rp. 20 – 25 Ribu per bulan.

Tidak jarang, beberapa warga tidak dapat membayar karena ketiadaan uang, yang selalu dimaklumi oleh Rasid. Bahkan ada warga yang tidak membayar selama dua tahun. Namun demikian Rasid tetap melayani listrik warga tersebut, tidak memutuskan saluran listrik, sebagaimana yang dilakukan PLN untuk warga yang menunggak pembayaran.

Menariknya, pembayaran listrik tidak harus dengan uang. Ayam, bebek, pisang, beras, bahkan telor pun diterima Rasid dari warga sebagai pembayaran biaya pemakaian listrik. Tentu saja barang-barang tersebut disepakati nilainya, jika dirasa barang melebihi jumlah tagihan, maka Rasid mengembalikan selisih uang, atau dicatat untuk pembayaran bulan berikutnya.

ayam (2).jpg
Seorang warga menyerahkan satu ekor ayam kepada Rasid untuk membayar tagihan listrik PLTMh. Pembayaran PLTMh Rasid tidak hanya dengan uang, namun bisa juga dengan ayam, beras, kopi, telor, dan aneka hasil kebun lainnya.

Fungsi sosial

Listrik yang dikelola Rasid ternyata juga memiliki banyak fungsi sosial. Telah menjadi ketetapan Rasid, bahwa listriknya digratiskan untuk tempat ibadah, sekolah, dan warga tidak mampu. Bukan hanya saja tidak membayar tagihan per bulan, Rasid juga membantu dengan cuma-cuma instalasi listriknya, mulai dari kabel hingga lampu, serta mengganti apabila lampu pertama yang diberikan mati.

Lampu gratis setidaknya telah dinikmati oleh lebih dari 30 warga miskin, 10 masjid, 46 mushalla, 1 sekolah dasar, 10 madrasah, dan 1 kantor desa.

Selain itu juga ada dispensasi untuk warga yang menyelenggarakan hajat digratiskan selama acara, demikian juga bila ada anggota keluarga yang meninggal dibebaskan dari membayar listrik selama 1 bulan. Pun demikian untuk warga yang menunaikan haji, listrik rumahnya dibebaskan atau gratis sejak berangkat hingga pulang kembali ke rumah.

pasang lampu
Rasid sedang memasang lampu gratis di rumah salah satu warga miskin di desanya. Selain warga miskin, listrik juga gratis untuk tempat ibadah, sekolah, warga yang punya hajat, dan menunaikan ibadah haji.

Nyaris berkorban nyawa

Ikhtiar Rasid menciptakan dan mengelola PLTMh bukanlah tanpa risiko, setidaknya dua kali dirinya mengalami kecelakaan saat melakukan perawatan. Kecelakaan pertama saat masih menggunakan kincir, pakaiannya menyangkut di kincir yang sedang berputar, sehingga dirinya ikut terputar dan terkena as. Tangan kirinya terluka parah hingga tinggal tulang, tiga bulan Rasid harus berbaring hingga sembuh.

Kecelakaan pertama tidak membuatnya jera. Tidak selang lama dipasang turbin, Rasid kembali mengalami kecelakaan, kali ini dia tersengat strom, dan nyaris meninggal, untungnya segera datang pertolongan dari warga yang langsung membawanya ke rumah sakit.

Istri dan ayah Rasid berkali-kali meminta Rasid untuk menghentikan kegiatannya membuat listrik. Bukan hanya karena telah dua kali mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, Sulyani-istrinya juga tidak tega melihat Rasid harus naik turun sungai tengah malam. Setaiapakan listrik akan mati yang ditandai dengan turunnya voltage, Rasid harus langsung ke lokasi rumah turbin untuk memeriksa dan membersihkan sampah yang menutupi aliran air, sehingga mengganggu supplay listrik.

Tak jarang, pertikaian kecil terjadi antara Rasid dan istrinya. Saat Sulyani tidak mengijinkan Rasid turun ke sungai, suaminya tersebut nekad secara sembunyi-sembunyi lewat pintu jendela ke sungai memperbaiki listrik.

 

Advertisements